Sabtu, 23 April 2011

Suluk di Persimpangan Jalan

Penyebaran agama Islam di Indonesia tidak terlepas dari peran dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo khusunya di pulau Jawa dan Syekh Siti Jenar. Diyakini atau tidak, Islam berkembang pesat di tanah Jawa ini, dengan melalui praktek singkretisme[1]; mencampur adukkan dua unsur. Akan tetapi yang di maksud pada pembahasan kali ini adalah Islam dibuat fleksibel dan dikontekskan. Dalam kata lain, Islam tidak hanya dipraktekkan secara tekstual akan tetapi Islam dibuat lebih ramah lingkungan dan ajaran Islam dikolaborasikan dengan budaya setempat.
Lebih lanjut, dengan melalui prakttek singkretisme, proses penyebaran Islam di Indonesia, khususnya tanah Jawa massif menuai persoalan. Persoalan yang cukup mewarnai adalah berawal dari kepercayaan lama yang dianut oleh penduduk Jawa yaitu, starata social. Konsekwensinya adalah lahirnya banyak wajah Islam. Hal ini, di dasari oleh kualitas pemahaman masyarakat waktu itu, terhadap praktek singkretisme yang kadung menjadi pilihan tepat para penyebar Islam (baca: Wali Songo) juga strata social yang dominan menjadi pembeda pemahaman. Sebab pada waktu itu, geliat ajaran Hindu Budha masih tetap mewarnai kehidupan sehari-hari penduduk Jawa.
Syekh Siti Jenar adalah korban dari singkretisme ini, disatu sisi singkretisme menjadi pilihan yang tepat, akan tetapi di sisi lain justru singkretisme melahirkan bencana pada penduduk Jawa. Berawal dari kedatangan Syek Siti Jenar yang membawa ajaran “hulul” dengan mengadopsi ajaran Al-Hallaj dan tokoh sufi fenomenal Timur Tengah Ibnu Arabi yang di kenal dengan ajaran “wihdat al wujud”. Berangkat dari problema inilah maka timbul banyak aliran yang menajadi khazanah tersendiri dalam perkembangan Islam Nusantara[2]. Suluk menjadi satu-satunya Aliran controversial sekaligus menjadi ajaran.

Suluk Sebagai Aliran
Jamak diketahui suluk di pahami sebagai tingkatan ruhaniyah dalam menempuh penghambaan pada Tuhan (tabaqat), namun pemahaman itu akan terasa mentah dan salah jika misalnya membaca dan memahami kitab madhabus salikin karangan Nuruddin Ar-Raniri, tokoh sufi terkemuka kelahiran ranir (sekarang Rander) yang menjadi mufti pada kerajaan pasai di Aceh pada pemerintahan yang di pimpin oleh Sultan Iskandar Tsani (1043 H, 1637 M).
Namun sungguh sangat mencengangkan, mengkaji kitab ini seakan pemahaman terhadap suluk controversial ajaran Syekh Siti Jenar yang diadopsi dari ajaran Ibnu Arabi itu sangatlah salah dan keluar dari kontesks Islam[3]. Ar-Raniri dalam kitab ini menentang keras ajaran Wujudiyah-nya Hamzah Fanzuri yang dilanjutkan muridnya Syamsuddin Sumatrani. Bahakan lebih dari itu, untuk meluruskan pemahaman yang telah berlangsung pada pemerintahan sebelum Sultan Iskandar Tsani Ar-Raniri melakukan upaya yang cukup keras yaitu dengan membunuh secara pembakaran terhadap penganut ajaran wujudiyah.
Sebagai yang sudah disampaikan di atas, Ar-Raniri merupakan tokoh terakhir yang terdukomentasi sebagai pengaruh langsung dengan aliran Islam Suluk yang mengambil dasar fiqih, hadits, membandingkan ajaran antar agama juga menjadikan tarekat Syattariyah sebagai medium untuk menempuh jalan penghambaan terhadap Tuhannya.

Suluk Sebagai Thabaqat
Secara keseluruhan jalan tasawuf merupakan metode-metode untuk mencapai pengetahuan diri dan hakikat wujud tertinggi, melalui apa yang disebut sebagai jalan Cinta dan penyucian diri. Cinta yang dimaksudkan para sufi ialah kecenderungan kuat dari kalbu kepada Yang Satu, karena pengetahuan tentang hakikat ketuhanan hanya dicapai tersingkapnya cahaya penglihatan batin (kasyf) dari dalam kalbu manusia (Taftazani 1985:56). Tahapan-tahapan jalan tasawuf dimulai dengan‘penyucian diri’, yang oleh Mir Valiuddin (1980;1-3) dibagi tiga: Pertama, penyucian jiwa atau nafs (thadkiya al-nafs); kedua, pemurnian kalbu (tashfiya al-qalb); ketiga, pengosongan pikiran dan ruh dari selain Tuhan (takhliya al-sirr).
Misalnya disini Sunan Bonang dalam Suluk Wijilnya menyebutkanApakah salat yang sebenar-benar salat? Renungkan ini: Jangan lakukan salat Andai tiada tahu siapa dipuja Bilamana kaulakukan juga Kau seperti memanah burung Tanpa melepas anak panah dari busurnya Jika kaulakukan sia-sia Karena yang dipuja wujud khayalmu semata[4].
Dari ini sekurang-kurangnya di dapatkan sebuah pemahaman kalau suluk juga bisa dipahami sebagai metode atau thabaqat dalam menempuh penghambaan, namun dalam hal ini, Sanan Bonang lebih memprioritaskan sabar atau diam Selanjutnya dikatakan bahwa diam yang hakiki ialah ketika seseorang melaksanakan salat tahajud, yaitu salat sunnah tengah malam setelah tidur. Salat semacam ini merupakan cara terbaik mengatasi berbagai persoalan hidup.
Inti salat ialah bertemu muka dengan Tuhan tanpa perantara. Jika seseorang memuja tidak mengetahui benar-benar siapa yang dipuja, maka yang dilakukannya tidak bermanfaat. Salat yang sejati mestilah dilakukan dengan makrifat. Ketika melakukan salat, semestinya seseorang mampu membayangkan kehadiran dirinya bersama kehadiran Tuhan. Keadaan dirinya lebih jauh harus dibayangkan sebagai ’tidak ada’, sebab yang sebenar-benar Ada hanyalah Tuhan, Wujud Mutlak dan Tunggal yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sedangkan adanya makhluq-makhluq, termasuk manusia, sangat tergantung kepada Adanya Tuhan.
 Akan tetapi, atas semua itu hal mengenai suluk masih mengundang banyak perdebatan sehingga menjadi hal yang serba dilematis dan debatibel. Maka sangatlah perlu di lakukan penelitian yang lebih lanjut untuk mendapatkan pemahaman Suluk yang sebenarnya. Tapi yag sangat fundamental sukuk tidak sepenuhnya benar jika hanya dikatakan sebagai Thabaqat. Demikian sebaliknya, suluk tidak sepenuhnya salah jika dikatakan sebagai varian Islam yang ikut andil dalam penyebarran Islam di Nusantara khususnya tanah Jawa.


[1] Selengkapnya baca Dr. Hj. Sri Mulyanti, MA. Tasawwuf Nusantara, Rangkaian Mutiara Sufi Terkemuka, Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2006. Hal, 6-7
[2] Op. Cit, hal 10
[3] Tuntaskan pada, Margaret Smith, Mistikus Islam, Ujaran-Ujaran dan Karyanya, Surabaya, Risalah Gusti 2001. Hal, 22
[4] Baca Drs, Ridin Sofwan, Dkk, Islamisasi di Jawa, Yogyakarta, Pustaka Pelajar cetakan ke dua 2004. Hal, 80

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar